blum ada judul

Just another Blogdetik.com weblog

Bank; Sumber Permasalahan Perekonomian Kita

Perbankan memang sudah “terlanjur” menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan. Mulai dari tempat menyimpan kekayaan, meminjam modal untuk usaha, transaksi jual beli bahkan sampai kepada lahan investasi, semuanya dapat dilakukan melalui institusi bernama “bank”. Dengan bank, kegiatan finansial masyarakat menjadi mudah dan praktis.

Namun, sedikit sekali orang yang menyadari bahwa pada hakikatnya bank merupakan institusi yang berbahaya. Ia bisa menjadi racun dalam roda perekonomian. Menjadi lintah darat yang menghasilkan keuntungan di atas penderitaan, keringat dan kerja keras orang lain. Menimbulkan berbagai bencana ekonomi, mempermainkan daya beli masyarakat, menimbulkan potensi korupsi yang besar, dan mungkin masih banyak lagi keburukan-keburukan yang ditimbulkan bank. Oleh sebab itu, maka perlu kiranya bagi masyarakat luas untuk mengetahui sisi lain dari bank secara lebih mendalam mengenai “Siapa sebenarnya bank itu?” dan “Apa dampaknya bagi dunia secara keseluruhan?”

Seperti yang telah kita ketahui bersama, urat nadi dunia perbankan adalah bunga. Bunga merupakan biaya yang dibebankan kepada seseorang karena orang tersebut meminjam uang. Kelihatannya hal ini memang sepele dan seperti terlihat tidak bermasalah. Namun bila kita telusuri secara mendasar sekali akan terlihat betapa kejamnya “bunga” tersebut. Sebagai contoh, misalnya di dunia ini hanya terdapat satu bank saja. Bank tersebut menerbitkan 1000 uang yang kemudian dipinjamkan kepada 10 orang yang masing-masing mendapat 100 uang untuk modal usaha. Atas jasa peminjaman itu, bank menetapkan bunga 10% per tahun. Setelah setahun berlalu dan tiba masa jatuh tempo, ada yang sanggup melunasi hutangnya plus bunganya. Tetapi tentu saja ada yang gagal bayar atau kurang bayar. Kenapa? Karena uang yang beredar memang hanya 1000. Jadi total uang yang dipegang seluruh debitur tersebut lebih kecil dari jumlah tagihan bank sebesar 1100 satuan uang (1000 + 10%nya). Untuk melunasi hutangnya, yang gagal bayar tersebut terpaksa berhutang lagi atau mau tak mau harus merelakan asset-assetnya disita bank sampai bangkrut. Demikian seterusnya sampai dunia kiamatpun hutangnya tak akan pernah bisa dilunasi. Dalam konteks yang terjadi sekarang ini, dengan dunia yang mempraktekkan sistem bunga ini, maka faktanya adalah negara kaya akan semakin kaya dan negara berkembang dan miskin akan semakin terhisap.

Selain menghancurkan perekonomian masyarakat, efek domino dari bunga bank tersebut adalah rusaknya keseluruhan pola hidup manusia. Manusia digiring agar selalu bekerja keras demi mendapatkan penghasilan sebanyak-banyaknya yang bermuara pada tujuan pelunasan hutang masyarakat kepada bank. Di dalam pikirannya yang ada hanyalah uang dan uang. Sehingga peribahasa “waktu adalah uang” mungkin saja lahir dari peradaban manusia yang sudah rusak ini. Tidak ada lagi “keseimbangan” antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, manusia dengan alam, antara bekerja dengan santai, antara dunia dengan akhirat, dan seterusnya. Yang ada hanya uang dan keuntungan materi.

Di sisi lain, yakni bagi penabung/nasabah/investor atau apapun namanya, bunga bank “mendidik” masyarakat untuk malas bekerja, karena walaupun penabung cuma makan dan tidur toh ia tetap mendapatkan uang dari bunga bank. Coba bayangkan apa jadinya kalau seluruh penduduk dunia hanya makan dan tidur, tidak ada yang bekerja. Semuanya menunggu penghasilan dari bunga bank…Kemudian pikirkan juga realitasnya bahwa pada saat yang sama, ada pihak yang bersantai-santai kemudian mendapatkan keuntungan yang sudah pasti sedangkan di pihak lain merupakan pihak yang senantiasa bekerja keras namun dengan menanggung resiko ketidakpastian usahanya.

Selain “mendidik” masyarakat untuk malas bekerja, bunga bank juga “mendidik” manusia untuk tidak peduli uangnya tersebut akan disalurkan ke mana. Bisa saja bank menyalurkan uangnya untuk kredit usaha penebangan hutan, atau kepada perusahaan yang merusak lingkungan, atau mungkin yang lebih parah disalurkan ke tempat-tempat perjudian dan porstitusi. Nasabah tidak akan pernah tahu. Yang penting adalah bunga.

Masih seputar bunga bank. Bunga bank secara tidak langsung merupakan salah satu faktor pemicu inflasi. Angka inflasi yang rendah dan stabil memang tidak menimbulkan masalah. Namun inflasi yang tinggi dan tidak stabil bisa menghancurkan daya beli masyarakat. Harga-harga barang naik dan nilai uang anjlok. Ketika masyarakat tertekan karena inflasi, bank tetap bisa “bermain dan bermanuver” mengambil keuntungan dengan inflasi yang dibuatnya sendiri lewat “kebijakan” suku bunganya. Hal tersebut mengakibatkan instabilitas ekonomi. Perekonomian terkadang terlihat tumbuh mengesankan (atau lebih tepatnya mengesankan secara tidak masuk akal), terkadang pula dalam kondisi lesu, resesi atau bahkan krisis. Padahal tidak ada bencana alam atau perang.

Kemudian, di lingkungan sekitar kita sering dijumpai pembangunan yang terbengkalai. Jalan raya yang rusak, kurangnya pembangkit listrik dan penerangan, nyaris ambruknya gedung-gedung sekolah, masalah kemiskinan, kebodohan, kekurangan pangan dan lain sebagainya. Yang semuanya tentu saja membutuhkan uang. Ya, negara kita memang sedang kekurangan uang untuk membangun. Ironisnya, di saat negara dan orang banyak membutuhkan uang, bank justru menimbun uang. Bank menimbun banyak sekali uang masyarakat untuk disalurkan kepada proyek-proyek yang menghasilkan laba. Dia tidak akan pernah peduli sama sekali mengenai kesejahteraan sosial. Yang ia utamakan adalah bunga, laba dan juga jaminan dari peminjam.

Kemudian lagi, dengan menyimpan uang yang demikian besarnya dari masyarakat, hal ini jelas menimbulkan potensi yang luar biasa besar untuk KKN. Dana ini bisa saja diselewengkan, atau juga dengan memberikan kredit secara asal-asalan terutama kepada perusahaan yang dipunyai oleh owner bank itu sendiri. Akibatnya resiko kredit macet menjadi tinggi. Jika kredit macet terjadi, maka nasabah tidak bisa mengambil uangnya sendiri di bank. Bank akan kehilangan kepercayaan. Masyarakatpun akan beramai-ramai menarik dananya dari bank yang pada saat yang sama bank justru tidak mempunyai likuiditas untuk mencairkan dana masyarakat. Krisis moneter…

Oh iya, perlu diketahui bahwa dalam bank dalam kondisi yang sehatpun tetap tidak akan mampu mencairkan uang bila seluruh nasabah menarik dananya pada waktu yang bersamaan.

Dari uraian singkat tersebut dapat disimpulkan bahwa benarlah Tuhan yang telah mengharamkan riba, bunga, interest atau sejenisnya apapun namanya. Seluruh agama samawi (yahudi, kristen dan islam) telah melarang riba, namun pada kenyataanya adalah praktek bunga saat ini begitu mendunia. What’s wrong?

Andaikan institusi bank tidak pernah ada
Tidak ada lagi perburuan materi yang berlebihan
Tidak ada lagi eksploitasi yang besar-besaran
Tidak ada lagi orang yang berdiri di atas keringat orang lain
Betapa indahnya dunia ini

Biarlah orang membelanjakan dan mengawasi sendiri aliran hartanya
Bukankah ia nanti akan dimintai pertanggungjawaban
Dari mana hartanya ia dapat dan ke mana hartanya ia belanjakan?
Andaikan bank tidak pernah ada…

Semoga uraian ini bermanfaat dan bisa menambah wahana berpikir kita. Amin.

Indonesia Tanah Air Siapa…(refleksi 63 tahun kemerdekaan)

Indonesia tanah air siapa…
Pusaka abadinya siapa
Indonesia sejak dulu kala…
Slalu dijajah bangsa manca

Sebuah lagu yang merefleksikan usia negara kita yang telah 63 tahun. Negara yang telah kehilangan beberapa (kalau tidak boleh dikatakan hampir seluruh) unsur-unsur kedaulatan negara. Kedaulatan yang telah dijual kepada new imperialism dan new colonialism. Dijual oleh segelintir orang (Indonesia juga;kolaborator) demi kepentingan mereka sendiri. Kita kembali terjajah…

Minyak milik rakyat Indonesia harus dijual kepada rakyat yang memilikinya dengan harga yang ditentukan oleh New York Mercantile Exchange atas nama mekanisme pasar.

Utang dan bunga utang luar negeri yang mencekik leher APBN yang mengharuskan terus naiknya realisasi penerimaan perpajakan dari tahun ke tahun. Uang hasil kerja rakyat ini sedikit atau banyak, suka atau tidak suka mengalir ke luar negeri.

Dalam kondisi banyak hutan yang telah digunduli, negara kita masih menjadi salah satu pengekspor kayu terbesar. Sebuah prestasikah?

Pasar kita kebanjiran produk impor yang harganya murah2. Industri dalam negeri kita hancur karena tak mampu bersaing. Akhirnya tingkat pengangguran meningkat. Banyak juga yang memilih alternatif bekerja di luar negeri sebagai TKI. Hasilnya…..kita sering mendengar TKI kita yang disiksa majikan.

Korupsi sudah tidak lagi dimonopoli oleh orang pusat saja. Lapangan korupsipun telah meluas, tidak hanya melulu uang saja namun telah merambah ke hal-hal yang paling asasi dari manusia yaitu pikiran. Pikiran yang telah corrupt. Tidak ada lagi (atau jarang orang yang berpikir idelais) Semuanya ingin serba cepat, serba instan (banyaknya bintang2 instan produk reality show) yang penting enak sendiri, tidak mempedulikan orang lain.

BUMN2 beramai-ramai dijual ke asing atas nama privatisasi. Alasannya daripada duit pajak dipake terus buat nombokin BUMN yang rugi, jadi mendingan dijual. Selain kita dapet duit cepet, kita juga gak perlu lagi ngurusin BUMN tsb karena toh sudah ada manajemen yang baru. Setuju gak?

Semakin menurunnya rasa kekeluargaan, keakraban, kebersamaan, tolong menolong dengan ikhlas. Kini semuanya telah diukur dengan materi. Yaa…kita memang tengah hidup di lingkungan yang serba materialis. Karena pembangunan sekarang ini banyak diukur dari sisi materi.

Pada akhirnya…..apalagi yang masih kita miliki. Inikah kemerdekaan itu? Inikah kebebasan itu?

Al Mukadimah

Bismillahirrohmanirrohiim. Alhamdulillahi Robbil ‘alamiin. Segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam. Sang Pencipta segalanya. Hanya karena takdirNya-lah akhirnya bisa tercipta blog ini.

Terimakasih kepada Blogdetik yang telah memberikan sarana bagi mereka yang ingin pendapatnya, idenya, suaranya dan aspirasinya…(halah kayak kampanye aja heheh)…bisa di baca oleh seluruh manusia di bumi.

Semoga dengan adanya blog ini bisa mendatangkan kebaikan bagi kita semua. Amiin

Halo dunia!

Welcome to Blogdetik.com. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!